Di sela-sela senja kota Ruteng, berdiri arca Bunda Maria yang dikalungi selendang adat Manggarai. “Bunda Maria melepaskan ke-yahudian-nya dan menjadi satu dengan kita masyarakat Manggarai,” kata Pater Edy dalam kotbahnya saat perayaan Ekaristi, Senin (6/10/2025) sore.
Umat Paroki Santo Mikhael Kumba berkesempatan menyambut kunjungan Bunda Maria, Minggu (5/11/2025) sore. Saat itu terik matahari terasa hangat seolah ikut bersemangat menyambut kedatangan Arca Maria Ratu Rosari. Ratusan umat paroki berpakaian putih dan kain songket Manggarai di pinggang berjalan beriringan di belakang Arca Bunda Maria. Beberapa anak-anak membawa panji-panji dan bendera. Semua orang berjalan di belakang Arca Bunda Maria. Selagi kaki melangkah, doa Rosario didaraskan. Terik matahari mulai bersembunyi. Menyisakan senja merah sebagai mahkota Maria yang tak pernah tertinggal. Lilin-lilin dinyalakan, sejuta harapan dilambungkan. Pada setiap butir Rosario ada mata yang terpejam, berharap doa dikabulkan. Tanpa sadar setetes air mata jatuh dari seorang wanita lansia yang berjalan tertatih. Langkah kakinya sudah tidak mampu lagi tapi tekadnya tetap kuat.
Berjalan bersama Bunda seperti menyediakan waktu untuk introspeksi diri. Membayangkan kembali kesalahan yang lalu dan memohon ampun. Rute perarakan mengarahkan ratusan langkah kaki itu menuju tiga rumah gendang (rumah adat) di paroki Kumba. Setiap rumah gendang menyambut kedatangan Bunda Maria dengan Adat torok dan tiba meka. Tak terasa sudah empat jam berjalan bersama Bunda Maria. Kaki memberi sinyal untuk berhenti berjalan. Nyeri mulai terasa hingga ingin mengucapkan keluhan. Namun, semua itu tak sebanding dengan pengorbanan putera-Nya. Sakit ini tak seberapa dibanding dengan siksaan yang Tuhan Yesus alami. Bagaimana bisa kita mengeluh hanya karena berjalan 4 jam? Dari perasaan itulah muncul kata hati yang seolah meminta Bunda Maria mengasihani kami. Berharap Bunda melihat tekad yang kuat ini. Sehingga dengan sukarela ia mengabulkan salah satu doa yang didaraskan saat perarakan.
Walau hanya itu yang bisa dilakukan, tapi kami berjalan dengan seluruh waktu dan tenaga untuk penebusan dosa kami dan pembaharuan iman yang sering tersesat ini.
Semua harapan telah diungkapkan. Sekarang, semuanya bergantung pada Bunda. Entah kapan akan dikabulkan kami tetap menunggu.
Montfort Children
All for Jesus
Malam Jiwa dan Cahaya-Mu
Tuhan,Engkau datang tanpa langkah, berbicara tanpa suara, memeluk tanpa tangan. Di malam yang tak berujung,jiwaku berjalan tanpa lentera,menyusuri lorong-lorong sunyi di dalam diriku sendiri. Angin berbisik: di mana Engkau, Kekasih jiwa?Namun hanya hening yang menjawab. Hening yang kudus, hening yang membuatku gentar sekaligus tenteram. Aku mencari-Mu,bukan dengan mata,tetapi dengan luka.Sebab di dalam luka itu,Engkau menanam…
Perarakan Arca Maria Ratu Rosari, Umat: Iman Kami Diperbaharui
Foto: @kaka_ited Ruteng, Montfortchildren.com- Perarakan Arca Maria Ratu Rosari adalah kegiatan inti dalam Festival Golocuru di Ruteng. Salah satu umat yang mengikuti perarakan mengaku memperoleh pembaharuan iman saat mengikuti prosesi dari Katedral menuju puncak Golocuru. “Saat mengikuti perarakan, saya tidak merasa letih karena seluruh umat yang berpartisipasi berdoa dengan khusyuk. Sehingga saya bisa merasakan iman…
Jingga Senja
Senja dimana yang kau nikmati tanpa aku, Tuan? Tidakkah kau ingat bahwa senja selalu identik denganku?Jingga mana yang menyinari wajah tampanmu itu, Tuan? Siapa yang menemanimu menikmati jingga senja kali ini? Aku harap bukan nona yang baru kau temui di linimasaAku harap bukan nona yang hanya singgah untuk menemanimu, lalu pergi.. Tuan.. Apakah senja kali…


Leave a comment